MISTERI LOTENG PAMAN LOU
Part 2
“ Sekarang, lihatlah ke kolong
tempat tidur!”. Perintah Glorya. Aku menggelengkan kepala. Glorya melambaikan
tangannya.
“ Terserah kau saja, lah! Ayo,
cepat tidur!”. Aku memutar tubuh dan beranjak menaiki kasur. Kutarik selimut
bulu sampai leher. Glorya menyusul dan berbaring di sampingku.
“ Kuberi tahu satu hal, ya...
Jika kau semakin takut pada hal-hal semacam itu, semakin besar kemungkinan dia
menampakkan dirinya di depanmu”. Ucap Glorya. Aku hanya mengangkat bahu dan
memejamkan mata. Tapi... entahlah.... Mataku tak bisa terpejam.
...
Besoknya, pagi-pagi sekali,
Glorya membangunkanku dengan cara yang sangat tidak rasional. Menyiramkan air!
Bayangkan itu! Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku terbangun sambil mengucek
mata.
“ Bangun, pemalas!”. Teriak
Glorya.
“ Oke, oke! Sebentar....”.
Balasku sembari beringsut menuruni kasur. Kuakui, Glorya benar-benar galak.
Kulihat, dia memegang sebuah alat pel. Kupikir, dia akan memukulkan benda itu
ke tubuhku apabila tak kunjung bangkit. Ternyata....
“ Lihatlah! Ini hantu yang kau
lihat semalam!”. Ledek Glorya seraya mengacungkan alat pel tersebut. Aku mengerutkan
bibir dan melipat kedua tanganku.
“ Bukan! Semalam itu nyata!
Lagian, rambut hantunya itu lurus! Enggak kayak alat pelmu yang gimbal itu!”.
Balasku. Glorya hanya tertawa dan mengembalikan alat pel tersebut ke kolong
tempat tidur. Kemudian, dia melirikku. Aku tahu apa artinya.
Segera, aku berlari menuju kamar
mandi sembari menyambar handuk beruangku. Tapi... akh! Aku kalah cepat dengan
Glorya. Kuangkat kedua tanganku tanda menyerah. Sedangkan, Glorya tersenyum
penuh kemenangan di kamar mandi.
Usai mandi, aku dan Glorya
bergegas menuju ruang makan. Bibi Angela telah menyiapkan sarapan berupa
sandwich, dan segelas susu cokelat hangat. Sederhana, namun nikmat! Kudengar,
hewan-hewan di peternakan Paman Lou memang belum waktunya untuk “dipanen”.
“ Selamat pagi, Clarissa...
Selamat pagi, Glory... “. Sapa Bibi Angela sambil menyerahkan baki berisi
sarapan untuk kami. Masing-masing sebuah.
“ Selamat pagi juga, Bibi Angela”.
Sahutku. Sedangkan Glorya sudah melahap sandwich-nya. Sehingga tak sempat
membalas sapaan ramah ibunya.
Paman Lou masuk dari pintu yang
memisahkan antara ruang makan dengan ruang tengah sambil menenteng sebuah
keranjang besar. Keranjang itu terbuat dari bambu yang dianyam. Berwarna hijau
muda dan terlihat bagus. Keranjang tersebut masih ditutupi selembar kain
bermotif kotak-kotak.
“ Paman? Darimana?”. Tanyaku.
Paman Lou mendongakkan kepala.
“ Berbelanja. Biasa, pesanan
bibimu. Padahal, paman harus memberi makan kuda-kuda di kandang. Jika tidak....”.
Kata-kata Paman Lou terputus.
“ Sudahlah... Kuda-kuda itu tentu
akan mengerti”. Sahut Bibi Angela seraya meraih keranjang besar yang dibawa
Paman Lou. Kemudian, berlalu ke dapur. Sedangkan Paman Lou ikut bergabung
bersama kami.
“ Bibimu memang aneh. Seharusnya,
dia tahu bahwa berbelanja adalah tugas wanita. Tapi, dia membebankan tugas itu
padaku”. Ujar Paman Lou. Tangan kanannya sibuk memilah sandwich. Sedangkan
tangan kirinya mengambil baki.
Aku yang duduk di samping Glorya,
berbisik padanya.
“ Glory, apakah kita jadi ke
loteng?”. Tanyaku.
“ Jadi.. Tapi, tunggulah hingga
kedua orang tuaku pergi”. Jawab Glorya pelan. Aku mengangguk dan meneruskan
makanku.
|
MISTERI LOTENG PAMAN LOU
Part 2
“ Sekarang, lihatlah ke kolong
tempat tidur!”. Perintah Glorya. Aku menggelengkan kepala. Glorya melambaikan
tangannya.
“ Terserah kau saja, lah! Ayo,
cepat tidur!”. Aku memutar tubuh dan beranjak menaiki kasur. Kutarik selimut
bulu sampai leher. Glorya menyusul dan berbaring di sampingku.
“ Kuberi tahu satu hal, ya...
Jika kau semakin takut pada hal-hal semacam itu, semakin besar kemungkinan dia
menampakkan dirinya di depanmu”. Ucap Glorya. Aku hanya mengangkat bahu dan
memejamkan mata. Tapi... entahlah.... Mataku tak bisa terpejam.
...
Besoknya, pagi-pagi sekali,
Glorya membangunkanku dengan cara yang sangat tidak rasional. Menyiramkan air!
Bayangkan itu! Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku terbangun sambil mengucek
mata.
“ Bangun, pemalas!”. Teriak
Glorya.
“ Oke, oke! Sebentar....”.
Balasku sembari beringsut menuruni kasur. Kuakui, Glorya benar-benar galak.
Kulihat, dia memegang sebuah alat pel. Kupikir, dia akan memukulkan benda itu
ke tubuhku apabila tak kunjung bangkit. Ternyata....
“ Lihatlah! Ini hantu yang kau
lihat semalam!”. Ledek Glorya seraya mengacungkan alat pel tersebut. Aku mengerutkan
bibir dan melipat kedua tanganku.
“ Bukan! Semalam itu nyata!
Lagian, rambut hantunya itu lurus! Enggak kayak alat pelmu yang gimbal itu!”.
Balasku. Glorya hanya tertawa dan mengembalikan alat pel tersebut ke kolong
tempat tidur. Kemudian, dia melirikku. Aku tahu apa artinya.
Segera, aku berlari menuju kamar
mandi sembari menyambar handuk beruangku. Tapi... akh! Aku kalah cepat dengan
Glorya. Kuangkat kedua tanganku tanda menyerah. Sedangkan, Glorya tersenyum
penuh kemenangan di kamar mandi.
Usai mandi, aku dan Glorya
bergegas menuju ruang makan. Bibi Angela telah menyiapkan sarapan berupa
sandwich, dan segelas susu cokelat hangat. Sederhana, namun nikmat! Kudengar,
hewan-hewan di peternakan Paman Lou memang belum waktunya untuk “dipanen”.
“ Selamat pagi, Clarissa...
Selamat pagi, Glory... “. Sapa Bibi Angela sambil menyerahkan baki berisi
sarapan untuk kami. Masing-masing sebuah.
“ Selamat pagi juga, Bibi Angela”.
Sahutku. Sedangkan Glorya sudah melahap sandwich-nya. Sehingga tak sempat
membalas sapaan ramah ibunya.
Paman Lou masuk dari pintu yang
memisahkan antara ruang makan dengan ruang tengah sambil menenteng sebuah
keranjang besar. Keranjang itu terbuat dari bambu yang dianyam. Berwarna hijau
muda dan terlihat bagus. Keranjang tersebut masih ditutupi selembar kain
bermotif kotak-kotak.
“ Paman? Darimana?”. Tanyaku.
Paman Lou mendongakkan kepala.
“ Berbelanja. Biasa, pesanan
bibimu. Padahal, paman harus memberi makan kuda-kuda di kandang. Jika tidak....”.
Kata-kata Paman Lou terputus.
“ Sudahlah... Kuda-kuda itu tentu
akan mengerti”. Sahut Bibi Angela seraya meraih keranjang besar yang dibawa
Paman Lou. Kemudian, berlalu ke dapur. Sedangkan Paman Lou ikut bergabung
bersama kami.
“ Bibimu memang aneh. Seharusnya,
dia tahu bahwa berbelanja adalah tugas wanita. Tapi, dia membebankan tugas itu
padaku”. Ujar Paman Lou. Tangan kanannya sibuk memilah sandwich. Sedangkan
tangan kirinya mengambil baki.
Aku yang duduk di samping Glorya,
berbisik padanya.
“ Glory, apakah kita jadi ke
loteng?”. Tanyaku.
“ Jadi.. Tapi, tunggulah hingga
kedua orang tuaku pergi”. Jawab Glorya pelan. Aku mengangguk dan meneruskan
makanku.
About The Webmaster
Name : Farah Adriana Binti Mohd Samsul
Known as :Farah
Age : 13 Years Old
Date Of Birthday : 08 Februari 2000
Current Home : Negeri Sembilan, Seremban
School at : Smk Dato' Sheikh Ahmad , Seremban
Favourite color : Pink, Putih, Biru
Hobbies : Singing, Dancing, Blogwalking & Edit Blog
Ambitition :Doctor
Sweet Memories : Got 5A in UPSR, Got a new handphone Galaxy Pocket, Got a new laptop !
« Back To Entry.
I Like To Find A New Friends
RULES FOR EXCHANGE LINKS :-

Bagitahu kat chatterbox yang awak nak exchanges link.

Letak nama saya
Farah .

Jika awak
delete link saya, automatik link awak pun saya delete.
GANTIKAN FARAH KEPADA NAMA AWAK.
FARAH
Next?
Next?
Next?
Next?
Next?
Next?
« Back To Entry.