Home Owner Freebies Tutorials Websites
Disclaimer Board

Hy haters please click Here

Chatter Box

Must put your name & url blog. Exchanges link opened, Tutorial request accepted & Be nice -Replace with your cbox codes-
Latest
  • Info paling baru!
  • <!--[if !mso]> v\:* {behavior:url(#default#VML);}...
  • <!--[if gte mso 9]> Normal 0 f...
  • Surat Kenangan
  • Bentuk tulisan Nisrina
  • Info Terbaru
  • My Friends in 7-H
  • Rencana Sekolahku
  • Karya Pelangiku
  • Bunga Bunga Persahabatan
  • Claps

    Template by:Farah Adriana
    With help:Fatin Hazwani /Wanaseoby /Nabila Medan
    Best view only in Google Chrome

    Entry updated on Jumat, 27 Desember 2013
    Entry got 0 comments | Fly to top :3


    MISTERI LOTENG PAMAN LOU
    Part 2

    “ Sekarang, lihatlah ke kolong tempat tidur!”. Perintah Glorya. Aku menggelengkan kepala. Glorya melambaikan tangannya.
    “ Terserah kau saja, lah! Ayo, cepat tidur!”. Aku memutar tubuh dan beranjak menaiki kasur. Kutarik selimut bulu sampai leher. Glorya menyusul dan berbaring di sampingku.

    “ Kuberi tahu satu hal, ya... Jika kau semakin takut pada hal-hal semacam itu, semakin besar kemungkinan dia menampakkan dirinya di depanmu”. Ucap Glorya. Aku hanya mengangkat bahu dan memejamkan mata. Tapi... entahlah.... Mataku tak bisa terpejam.

    ...

    Besoknya, pagi-pagi sekali, Glorya membangunkanku dengan cara yang sangat tidak rasional. Menyiramkan air! Bayangkan itu! Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku terbangun sambil mengucek mata.

    “ Bangun, pemalas!”. Teriak Glorya.
    “ Oke, oke! Sebentar....”. Balasku sembari beringsut menuruni kasur. Kuakui, Glorya benar-benar galak. Kulihat, dia memegang sebuah alat pel. Kupikir, dia akan memukulkan benda itu ke tubuhku apabila tak kunjung bangkit. Ternyata....

    “ Lihatlah! Ini hantu yang kau lihat semalam!”. Ledek Glorya seraya mengacungkan alat pel tersebut. Aku mengerutkan bibir dan melipat kedua tanganku.

    “ Bukan! Semalam itu nyata! Lagian, rambut hantunya itu lurus! Enggak kayak alat pelmu yang gimbal itu!”. Balasku. Glorya hanya tertawa dan mengembalikan alat pel tersebut ke kolong tempat tidur. Kemudian, dia melirikku. Aku tahu apa artinya.

    Segera, aku berlari menuju kamar mandi sembari menyambar handuk beruangku. Tapi... akh! Aku kalah cepat dengan Glorya. Kuangkat kedua tanganku tanda menyerah. Sedangkan, Glorya tersenyum penuh kemenangan di kamar mandi.

    Usai mandi, aku dan Glorya bergegas menuju ruang makan. Bibi Angela telah menyiapkan sarapan berupa sandwich, dan segelas susu cokelat hangat. Sederhana, namun nikmat! Kudengar, hewan-hewan di peternakan Paman Lou memang belum waktunya untuk “dipanen”.

    “ Selamat pagi, Clarissa... Selamat pagi, Glory... “. Sapa Bibi Angela sambil menyerahkan baki berisi sarapan untuk kami. Masing-masing sebuah.
    “ Selamat pagi juga, Bibi Angela”. Sahutku. Sedangkan Glorya sudah melahap sandwich-nya. Sehingga tak sempat membalas sapaan ramah ibunya.

    Paman Lou masuk dari pintu yang memisahkan antara ruang makan dengan ruang tengah sambil menenteng sebuah keranjang besar. Keranjang itu terbuat dari bambu yang dianyam. Berwarna hijau muda dan terlihat bagus. Keranjang tersebut masih ditutupi selembar kain bermotif kotak-kotak.

    “ Paman? Darimana?”. Tanyaku. Paman Lou mendongakkan kepala.
    “ Berbelanja. Biasa, pesanan bibimu. Padahal, paman harus memberi makan kuda-kuda di kandang. Jika tidak....”. Kata-kata Paman Lou terputus.
    “ Sudahlah... Kuda-kuda itu tentu akan mengerti”. Sahut Bibi Angela seraya meraih keranjang besar yang dibawa Paman Lou. Kemudian, berlalu ke dapur. Sedangkan Paman Lou ikut bergabung bersama kami.

    “ Bibimu memang aneh. Seharusnya, dia tahu bahwa berbelanja adalah tugas wanita. Tapi, dia membebankan tugas itu padaku”. Ujar Paman Lou. Tangan kanannya sibuk memilah sandwich. Sedangkan tangan kirinya mengambil baki.

    Aku yang duduk di samping Glorya, berbisik padanya.
    “ Glory, apakah kita jadi ke loteng?”. Tanyaku.
    “ Jadi.. Tapi, tunggulah hingga kedua orang tuaku pergi”. Jawab Glorya pelan. Aku mengangguk dan meneruskan makanku.