Home Owner Freebies Tutorials Websites
Disclaimer Board

Hy haters please click Here

Chatter Box

Must put your name & url blog. Exchanges link opened, Tutorial request accepted & Be nice -Replace with your cbox codes-
Latest
  • <!--[if gte mso 9]> Normal 0 f...
  • Info paling baru!
  • <!--[if !mso]> v\:* {behavior:url(#default#VML);}...
  • <!--[if gte mso 9]> Normal 0 f...
  • Surat Kenangan
  • Bentuk tulisan Nisrina
  • Info Terbaru
  • My Friends in 7-H
  • Rencana Sekolahku
  • Karya Pelangiku
  • Claps

    Template by:Farah Adriana
    With help:Fatin Hazwani /Wanaseoby /Nabila Medan
    Best view only in Google Chrome

    Cerita horor

    Entry updated on Jumat, 27 Desember 2013
    Entry got 0 comments | Fly to top :3


     
    MISTERI LOTENG PAMAN LOU
        Part 3

    Lepas makan, Glorya menarik lenganku menuju sebuah lemari yang terletak di dekat dapur. Kebetulan, saat itu Bibi Angela tengah membeli beberapa barang yang lupa dibeli oleh Paman Lou. Sementara Paman Lou sendiri, sibuk di peternakannya.

    “ Ini saat yang tepat. Dulu, aku sering mendengar suara-suara aneh di loteng. Seperti suara orang yang bercakap-cakap. Namun, aku tak berani menyelidikinya sendiri. Aku juga sering mendengar suara seperti benda yang terjatuh dengan cukup keras. Padahal, kata ibu, loteng itu sudah kosong”. Ungkap Glorya.

    Tiba-tiba, terdengar suara langkah menaiki tangga dapur. Glorya yang hendak membuka pintu lemari pun, mengurungkan niatnya. Ditariknya tanganku menuju kamar.

    “ Kenapa Bibi Angela cepat sekali?”. Gerutuku.
    “ Yaa... Ibu memang begitu. Cara jalannya cepat. Semua pekerjaan rumah tangga selesai dalam waktu singkat. Terkadang, aku kagum pada ibu. Di tengah kesibukan rumah tangga, ibu masih menyempatkan diri membantu ayah di peternakan”.

    Untuk mengusir rasa bosan, kami bermain scrabble. Tanpa disadari, diluar hujan turun dengan derasnya. Rintik-rintik hujan membuncah atap rumah. Menari-nari bebas. Terdengar suara derak lantai kayu yang diinjak langkah kaki tergesa-gesa memasuki rumah.

    “ Ayah selalu masuk rumah dengan terburu-buru. Ruang tamu pasti becek dibuatnya”. Ujar Glorya.

    “ Glory, aku berfirasat bahwa pasti Bibi Angela sibuk di kamar mandi. Menyiapkan air hangat untuk cuaca yang dingin seperti ini. Sedangkan Paman Lou pasti di kamar. Mengeringkan tubuhnya. Tidak bisakah kita pergi ke loteng sekarang?”. Tanyaku. Glorya memutar-mutar biji scrabble berbentuk bujur sangkar. Kemudian melipat papan scrabble dan meletakkannya di dalam lemari mainan.

    “ Boleh. Ayo!”. Glorya menarik lenganku.

    Kami mengendap-ngendap menuju dapur. Dapur sepi. Lampunya saja diredupkan. Kemudian, aku dan Glorya mendekati lemari di pojok dapur.

    Krieett.... Pintu lemari itu terbuka dengan menimbulkan suara berdecit. Aku terkejut. Silahkan percaya atau tidak, di hadapanku, kini terdapat puluhan anak tangga yang mengarah naik. Aku tidak menyangka ada tangga di lemari tua ini.

    “ Masuklah. Cepat...”. Perintah Glorya sambil mendorongku masuk. Ragu-ragu, aku melangkah masuk dan menaiki anak tangga keempat. Glorya menoleh ke kiri dan kanan. Setelah memastikan semuanya aman, dia melompat ke anak tangga kedua, lalu menutup pintu lemari.

    Glorya mengeluarkan sebuah senter dari kantong bajunya, lalu menyalakan senter tersebut. Seketika, ruangan menjadi terang benderang.

    “ Glory, aku tak melihatmu membawa senter itu tadi”. Ujarku. Glorya tertawa pelan.
    “ Senter ini begitu kecil, Clarissa... Dengan mudah mampu kuselipkan di kantong bajuku yang cukup besar ini, bukan?”.

    Glorya mendahuluiku dan menaiki tangga itu. Suara derap kaki langkah kami bergema di lemari yang kosong. Hingga kemudian, terdengar suara seperti orang yang bercakap-cakap.

    “ Itulah suara yang sering kudengar”. Bisik Glorya padaku. Kemudian, dia mematikan senternya. Seketika, ruangan berbah menjadi gelap.
    “ Kita maju? Atau kita turun?”. Tanyaku.
    “ Tidak, Rissa... Kita sudah sampai sini. Kita harus maju”.
    “ Baiklah...”.

    Glorya menggandeng tanganku untuk maju beberapa anak tangga lagi. Di hadapan kami, kini terdapat sebuah pintu berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari kayu.

    “ Bagaimana? Buka?”. Tanya Glorya.
    “ Buka, Glory....”.
    Kriiieett.....