 Cerita horor
MISTERI LOTENG PAMAN LOU
Part 3
Lepas makan, Glorya menarik
lenganku menuju sebuah lemari yang terletak di dekat dapur. Kebetulan, saat itu
Bibi Angela tengah membeli beberapa barang yang lupa dibeli oleh Paman Lou.
Sementara Paman Lou sendiri, sibuk di peternakannya.
“ Ini saat yang tepat. Dulu, aku
sering mendengar suara-suara aneh di loteng. Seperti suara orang yang
bercakap-cakap. Namun, aku tak berani menyelidikinya sendiri. Aku juga sering
mendengar suara seperti benda yang terjatuh dengan cukup keras. Padahal, kata
ibu, loteng itu sudah kosong”. Ungkap Glorya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah
menaiki tangga dapur. Glorya yang hendak membuka pintu lemari pun, mengurungkan
niatnya. Ditariknya tanganku menuju kamar.
“ Kenapa Bibi Angela cepat
sekali?”. Gerutuku.
“ Yaa... Ibu memang begitu. Cara
jalannya cepat. Semua pekerjaan rumah tangga selesai dalam waktu singkat.
Terkadang, aku kagum pada ibu. Di tengah kesibukan rumah tangga, ibu masih
menyempatkan diri membantu ayah di peternakan”.
Untuk mengusir rasa bosan, kami
bermain scrabble. Tanpa disadari, diluar hujan turun dengan derasnya. Rintik-rintik
hujan membuncah atap rumah. Menari-nari bebas. Terdengar suara derak lantai
kayu yang diinjak langkah kaki tergesa-gesa memasuki rumah.
“ Ayah selalu masuk rumah dengan
terburu-buru. Ruang tamu pasti becek dibuatnya”. Ujar Glorya.
“ Glory, aku berfirasat bahwa
pasti Bibi Angela sibuk di kamar mandi. Menyiapkan air hangat untuk cuaca yang
dingin seperti ini. Sedangkan Paman Lou pasti di kamar. Mengeringkan tubuhnya.
Tidak bisakah kita pergi ke loteng sekarang?”. Tanyaku. Glorya memutar-mutar
biji scrabble berbentuk bujur sangkar. Kemudian melipat papan scrabble dan
meletakkannya di dalam lemari mainan.
“ Boleh. Ayo!”. Glorya menarik
lenganku.
Kami mengendap-ngendap menuju
dapur. Dapur sepi. Lampunya saja diredupkan. Kemudian, aku dan Glorya mendekati
lemari di pojok dapur.
Krieett.... Pintu lemari itu
terbuka dengan menimbulkan suara berdecit. Aku terkejut. Silahkan percaya atau
tidak, di hadapanku, kini terdapat puluhan anak tangga yang mengarah naik. Aku
tidak menyangka ada tangga di lemari tua ini.
“ Masuklah. Cepat...”. Perintah
Glorya sambil mendorongku masuk. Ragu-ragu, aku melangkah masuk dan menaiki
anak tangga keempat. Glorya menoleh ke kiri dan kanan. Setelah memastikan
semuanya aman, dia melompat ke anak tangga kedua, lalu menutup pintu lemari.
Glorya mengeluarkan sebuah senter
dari kantong bajunya, lalu menyalakan senter tersebut. Seketika, ruangan
menjadi terang benderang.
“ Glory, aku tak melihatmu
membawa senter itu tadi”. Ujarku. Glorya tertawa pelan.
“ Senter ini begitu kecil,
Clarissa... Dengan mudah mampu kuselipkan di kantong bajuku yang cukup besar
ini, bukan?”.
Glorya mendahuluiku dan menaiki
tangga itu. Suara derap kaki langkah kami bergema di lemari yang kosong. Hingga
kemudian, terdengar suara seperti orang yang bercakap-cakap.
“ Itulah suara yang sering kudengar”.
Bisik Glorya padaku. Kemudian, dia mematikan senternya. Seketika, ruangan
berbah menjadi gelap.
“ Kita maju? Atau kita turun?”.
Tanyaku.
“ Tidak, Rissa... Kita sudah
sampai sini. Kita harus maju”.
“ Baiklah...”.
Glorya menggandeng tanganku untuk
maju beberapa anak tangga lagi. Di hadapan kami, kini terdapat sebuah pintu
berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari kayu.
“ Bagaimana? Buka?”. Tanya
Glorya.
“ Buka, Glory....”.
Kriiieett.....
|

Cerita horor
MISTERI LOTENG PAMAN LOU
Part 3
Lepas makan, Glorya menarik
lenganku menuju sebuah lemari yang terletak di dekat dapur. Kebetulan, saat itu
Bibi Angela tengah membeli beberapa barang yang lupa dibeli oleh Paman Lou.
Sementara Paman Lou sendiri, sibuk di peternakannya.
“ Ini saat yang tepat. Dulu, aku
sering mendengar suara-suara aneh di loteng. Seperti suara orang yang
bercakap-cakap. Namun, aku tak berani menyelidikinya sendiri. Aku juga sering
mendengar suara seperti benda yang terjatuh dengan cukup keras. Padahal, kata
ibu, loteng itu sudah kosong”. Ungkap Glorya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah
menaiki tangga dapur. Glorya yang hendak membuka pintu lemari pun, mengurungkan
niatnya. Ditariknya tanganku menuju kamar.
“ Kenapa Bibi Angela cepat
sekali?”. Gerutuku.
“ Yaa... Ibu memang begitu. Cara
jalannya cepat. Semua pekerjaan rumah tangga selesai dalam waktu singkat.
Terkadang, aku kagum pada ibu. Di tengah kesibukan rumah tangga, ibu masih
menyempatkan diri membantu ayah di peternakan”.
Untuk mengusir rasa bosan, kami
bermain scrabble. Tanpa disadari, diluar hujan turun dengan derasnya. Rintik-rintik
hujan membuncah atap rumah. Menari-nari bebas. Terdengar suara derak lantai
kayu yang diinjak langkah kaki tergesa-gesa memasuki rumah.
“ Ayah selalu masuk rumah dengan
terburu-buru. Ruang tamu pasti becek dibuatnya”. Ujar Glorya.
“ Glory, aku berfirasat bahwa
pasti Bibi Angela sibuk di kamar mandi. Menyiapkan air hangat untuk cuaca yang
dingin seperti ini. Sedangkan Paman Lou pasti di kamar. Mengeringkan tubuhnya.
Tidak bisakah kita pergi ke loteng sekarang?”. Tanyaku. Glorya memutar-mutar
biji scrabble berbentuk bujur sangkar. Kemudian melipat papan scrabble dan
meletakkannya di dalam lemari mainan.
“ Boleh. Ayo!”. Glorya menarik
lenganku.
Kami mengendap-ngendap menuju
dapur. Dapur sepi. Lampunya saja diredupkan. Kemudian, aku dan Glorya mendekati
lemari di pojok dapur.
Krieett.... Pintu lemari itu
terbuka dengan menimbulkan suara berdecit. Aku terkejut. Silahkan percaya atau
tidak, di hadapanku, kini terdapat puluhan anak tangga yang mengarah naik. Aku
tidak menyangka ada tangga di lemari tua ini.
“ Masuklah. Cepat...”. Perintah
Glorya sambil mendorongku masuk. Ragu-ragu, aku melangkah masuk dan menaiki
anak tangga keempat. Glorya menoleh ke kiri dan kanan. Setelah memastikan
semuanya aman, dia melompat ke anak tangga kedua, lalu menutup pintu lemari.
Glorya mengeluarkan sebuah senter
dari kantong bajunya, lalu menyalakan senter tersebut. Seketika, ruangan
menjadi terang benderang.
“ Glory, aku tak melihatmu
membawa senter itu tadi”. Ujarku. Glorya tertawa pelan.
“ Senter ini begitu kecil,
Clarissa... Dengan mudah mampu kuselipkan di kantong bajuku yang cukup besar
ini, bukan?”.
Glorya mendahuluiku dan menaiki
tangga itu. Suara derap kaki langkah kami bergema di lemari yang kosong. Hingga
kemudian, terdengar suara seperti orang yang bercakap-cakap.
“ Itulah suara yang sering kudengar”.
Bisik Glorya padaku. Kemudian, dia mematikan senternya. Seketika, ruangan
berbah menjadi gelap.
“ Kita maju? Atau kita turun?”.
Tanyaku.
“ Tidak, Rissa... Kita sudah
sampai sini. Kita harus maju”.
“ Baiklah...”.
Glorya menggandeng tanganku untuk
maju beberapa anak tangga lagi. Di hadapan kami, kini terdapat sebuah pintu
berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari kayu.
“ Bagaimana? Buka?”. Tanya
Glorya.
“ Buka, Glory....”.
Kriiieett.....
About The Webmaster
Name : Farah Adriana Binti Mohd Samsul
Known as :Farah
Age : 13 Years Old
Date Of Birthday : 08 Februari 2000
Current Home : Negeri Sembilan, Seremban
School at : Smk Dato' Sheikh Ahmad , Seremban
Favourite color : Pink, Putih, Biru
Hobbies : Singing, Dancing, Blogwalking & Edit Blog
Ambitition :Doctor
Sweet Memories : Got 5A in UPSR, Got a new handphone Galaxy Pocket, Got a new laptop !
« Back To Entry.
I Like To Find A New Friends
RULES FOR EXCHANGE LINKS :-

Bagitahu kat chatterbox yang awak nak exchanges link.

Letak nama saya
Farah .

Jika awak
delete link saya, automatik link awak pun saya delete.
GANTIKAN FARAH KEPADA NAMA AWAK.
FARAH
Next?
Next?
Next?
Next?
Next?
Next?
« Back To Entry.